Pasangan Berbeda Etnis

Pasangan Berbeda Etnis, Perjuangkan Cintamu atau Tidak?

Cinta memang butuh perjuangan dan selalu ada saja tantangan yang akan dihadapi. Tapi untuk cinta beda suku atau beda etnis, mungkin skala hambatannya lebih besar dibandingkan biasanya. Tak jarang, banyak pasangan yang gagal mempertahankan perjuangan cinta karena beda etnis. Padahal, asmara antara dua pribadi yang berbeda latar belakang termasuk bukan lagi hal yang sangat tabu bukan? 

Faktanya, banyak sekali faktor-faktor yang bisa mempengaruhi mulusnya perjuangan cinta beda suku atau beda etnis. Bukan saja soal pandangan umum, seringnya malah anggota keluarga dekat yang tidak merestui. Jika sudah terjadi demikian, kalian pasti jadi ragu dan enggan melangkah lebih jauh kan? 

Supaya gak galau, cek dulu apa saja yang akan terjadi sekiranya kamu terus mempertahankan perjuangan cinta beda etnis berikut :

 

1.  Mempertahankan Identitas Budaya

Jika sukses dalam perjuangan cinta beda etnis, kamu tidak harus khawatir kehilangan jati diri atau identitas budaya dirimu sendiri. Tidak tergantung apakah kamu dari pihak perempuan atau laki-laki, selalu ada cara menjalani identitas budaya bersama pasangan. 

Caranya tentu adalah dimulai dari saling mendalami dan mau menghargai latar belakang pasangan sejak dini. Jika ada komunikasi yang saling terbuka dan menerima, bisa jadi perjuangan cinta kalian layak diperjuangkan. Coba mulai dengan saling berdiskusi hal-hal yang mendasar seperti: cara beribadah, mengasuh anak, pembagian rumah tangga, hingga peran masing-masing secara jangka panjang. 

Identitas
 

2. Proses Adaptasi

Beberapa hal yang mungkin akan kalian temui dalam perjuangan cinta beda etnis antara lain :

  • Tanggapan publik yang tidak memihak pada cinta beda etnis

  • Harus kehilangan kontak dengan teman atau keluarga yang tidak menyetujui

  • Komentar negatif online atau kehidupan sehari-hari

  • Stereotip negatif

  • Perasaan terisolasi

  • Dan beberapa reaksi kurang menyenangkan lainnya.

Ini sebabnya banyak yang memilih putus hubungan daripada melanjutkan karena stress dan tidak sanggup menjalani proses adaptasi. Bahkan,  survei dari tim global CloseUp yang melibatkan 514 anak muda di Indonesia memperlihatkan bahwa hanya 1 dari 2 anak muda yang percaya kalau mereka bebas menentukan pilihan untuk bersama dengan orang yang mereka cintai, tanpa memandang latar belakangnya. 

Tapi jangan stress dulu guys, survei yang sama juga menemukan fakta bahwa 79% dari mereka mengaku telah mengikuti keinginan hati dan sedang atau pernah memilih untuk berada di hubungan yang ‘tidak konvensional’, seperti hubungan berbeda suku dan kelas sosial, atau usia yang terpaut jauh.

Artinya nih, kalian tidak sendirian dalam menjalani proses adaptasi. Meski sulit, tetap gaungkan semangat #speakupforlove bersama Close Up Ever Fresh yuk!

 

adaptasi berubah

 

3. Interaksi Sosial

Jangan karena harus menjalani perjuangan cinta beda etnis, kalian jadi malas menjalin interaksi sosial. Tetap jalani hidup dalam norma-norma bermasyarakat secara positif deh. Dengan demikian, kalian juga bisa menilai apakah pasangan juga cukup bisa menghadapi perjuangan cinta beda etnis. 

Dengan berinteraksi sosial, kalian akan bisa menemukan pasangan dengan problem serupa, orang-orang yang mengerti kalian, hingga bahkan tidak harus sampai putus hubungan dengan keluarga yang sebelumnya tidak setuju. Intinya, jalani tanpa harus mengucilkan diri. 

Selain itu, interaksi sosial juga akan membuka mata kalian tentang kondisi perjuangan cinta yang sedang dijalani. Bukan tidak mungkin, kalian bisa semakin merasa pasangan memang sudah tepat, atau mungkin ada lagi sosok lain yang lebih cocok? Jajaki saja deh dengan seksama. 

Interaksi sosial

 

4. Perubahan Dalam Bersosialisasi

Nah, melanjutkan dari tips interaksi sosial yang terus dilanjutkan dalam perjuangan cinta, kudu ingat juga untuk merubah hal-hal tertentu - terutama dalam peleburan dua pribadi dalam satu hubungan jangka panjang. 

Misalnya nih, kalian yang memang serius memikirkan ke jenjang pernikahan antar budaya atau antar etnis, coba mulai dalami perubahan dalam proses bersosialisasi. Pada teorinya, perubahan dalam proses bersosialisasi terjadi dalam beberapa tahap atau jenis, antara lain:

  • Difusi : proses penyebaran unsur pembentuk budaya, misalnya ide, keyakinan dan sebagainya. 

  • Akulturasi : proses masuknya kebudayaan asing ke dalam kehidupan pribadimu

  • Asimilasi : Ketika dua individu dengan latar berbeda berinteraksi dengan intensif dalam jangka waktu lama

  • Akomodasi : Keadaan seimbang dalam hubungan sosial antar pasangan. 

Coba deh mulai kaji perubahan proses-proses bersosialisasi yang diprediksi harus dijalani. Jika bisa terjadi transisi secara mulus dan worth it, lanjutkan saja deh perjuangan cinta kalian!

Bersosialisasi

 

5. Komunikasi dan Toleransi

Oke, mulai dari identifikasi, adaptasi, interaksi, sampai sosialisasi sudah dijalani? Saatnya ke titik terakhir yang tetap harus dipertahankan kalau ingin perjuangan cinta mulus sampai ke pelaminan dan bahkan setelahnya. Apa lagi kalau bukan soal komunikasi dan toleransi antar budaya?

Jaga hubungan dengan pasangan dengan penuh respek terhadap akar budayanya dan demikian juga sebaliknya. Tidak ada satu ras atau etnis yang lebih unggul dari yang lainnya. ini mindset toleransi yang merupakan dasar keharmonisan rumah tangga dan bahkan suatu negara yang multikultural seperti Indonesia. 

Berbicara soal komunikasi dan toleransi juga tidak sebatas etnis atau budaya belaka yah. Semua hubungan yang langgeng tetap membutuhkan dua faktor ini setiap saat. Tidak percaya? Coba deh tantang pasanganmu, jika dia setuju maka perjuangan cinta beda etnis fix lulus dan layak dipertahankan. Semoga langgeng guys!

 

 

Komunikasi & Toleransi

Oke, mulai dari identifikasi, adaptasi, interaksi, sampai sosialisasi sudah dijalani? Saatnya ke titik terakhir yang tetap harus dipertahankan kalau ingin perjuangan cinta mulus sampai ke pelaminan dan bahkan setelahnya. Apa lagi kalau bukan soal komunikasi dan toleransi antar budaya?

Jaga hubungan dengan pasangan dengan penuh respek terhadap akar budayanya dan demikian juga sebaliknya. Tidak ada satu ras atau etnis yang lebih unggul dari yang lainnya. ini mindset toleransi yang merupakan dasar keharmonisan rumah tangga dan bahkan suatu negara yang multikultural seperti Indonesia. 

Berbicara soal komunikasi dan toleransi juga tidak sebatas etnis atau budaya belaka yah. Semua hubungan yang langgeng tetap membutuhkan dua faktor ini setiap saat. Tidak percaya? Coba deh tantang pasanganmu, jika dia setuju maka perjuangan cinta beda etnis fix lulus dan layak dipertahankan. Semoga langgeng guys!

 

 

References:

  • http://repository.unair.ac.id/75153/3/JURNAL_Fis.S.65%2018%20Sap%20p.pdf 

  • https://ejournal.undip.ac.id/index.php/interaksi/article/viewFile/19476/13513 

  • https://media.neliti.com/media/publications/61466-ID-penyesuaian-diri-wanita-etnis-jawa-yang.pdf 

  • https://media.neliti.com/media/publications/184753-ID-interaksi-sosial-pasangan-jawa-tionghoa.pdf 

  • https://www.ruangguru.com/blog/mengetahui-proses-perubahan-sosial

Bagikan